Absolutivitas Kebenaran Tuhan Dan Relativitas Kebenaran Manusia


Generic placeholder image

Pengertian Absolutivitas dan Relativitas

Kata absolut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak terbatas (mutlak), sepenuhnya, tanpa syarat dan tidak dapat diragukan lagi. Jadi arti dari absolutivitas kebenaran Tuhan adalah bahwasanya kebenaran yang bersumber dari Tuhan pasti benar dan tidak ada keraguan lagi. Sedangkan kata relatif adala antonim dari kata absolut. Di dalam KBBI bermakna tidak mutlak (nisbi). Jadi kebenaran manusia sangatlah relatif (tidak mutlak). Bisa salah dan bisa pula benar. Kebenaran manusia tidak bersifat menyeluruh dan sangat terpengaruh oleh dimensi ruang dan waktu. Mungkin pada suatu waktu benar. Tetapi dengan berjalannya waktu maka yang semula itu benar bisa jadi salah.

Selain sifat mutlak dan relatif, terdapat unsur korelatif dalam pengetahuan. Korelatif maksudnya wajah kenyataan korelatif dengan pertanyaan yang dikenakan kepadanya. Wajah kenyataan akan lain kalau pertanyaan bersifat empiris, lain lagi kalau pertanyaan bersifat metaempiris. Kalau wajahnya (dimensi) berlainan, metode verifikasinya pun lain. sifat korelatif, inilah yang menjadi dasar keanekaragaman ilmu.[1] 

Contohnya pada masa kegelapan Eropa. Masyarakat Kristen dan Protestan di Eropa harus tunduk dengan semua ketentuan dan doktrin-doktrin Gereja. Pihak Gereja mengatakan bahwasanya Bumi adalah pusat tata surya. Matahari mengelilingi Bumi. Bumi itu berbentuk persegi panjang. Tetapi ada astronomi yang bernama Galileo Galilei mengatakan bahwasanya Matahari adalah pusat tata surya bukan Bumi. Bumi mengelilingi Matahari bukan Matahari yang mengelilingi Bumi. Dan bumi itu berbentuk bulat bukan persegi panjang. Tetapi pihak Gereja merasa paling benar waktu itu dan memiliki otoritas tertinggi. Akhirnya Galileo Galilei harus dihukum mati dengan membawa kebenaran yang sesungguhnya.          

            Manusia diberi anugerah yang begitu besar oleh Allah SWT yang berupa akal pikiran. Akal pula yang membedakan antara manusia dengan binatang maupun tumbuhan. Dengan akal, manusia bisa memilih atau menimbang antara perbuatan yang baik maupun buruk. Halal maupun haram. Bukan berarti akal pikiran menjadi landasan dan rujukan utama dalam beragama. Karena tetap wahyu Tuhan sumber yang pertama. Akal hanya instrumen untuk memahami wahyu. Memang agama harus ada yang dirasionalkan dengan akal. Tetapi tidak semuanya. Ada hal di dalam agama yang keluar dari koridor rasional.

            Contohnya ketika Nabi Muhammad  isra dan mikraj. Pada zaman jahiliyah belum ada pesawat yang sangat sepat. Zaman jahiliyah kendaraannya masih unta. Tetapi Nabi SAW isra dari Masjidil Haram (Mekah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina) ditambah dengan mikraj sampai ke Sidratul Muntaha dalam waktu tidak sampai semalam. Hal ini kalau dirasionalkan maka tidak akan masuk akal. Perjalanan Mekah menuju Palestina memerlukan waktu kurang lebih dua bulan pulang pergi. Tetapi Nabi mengatakan tidak sampai semalam. Maka dari itu, orang-orang kafir Quraisy tidak percaya dan mengatakan bahwasanya Muhammad sudah mulai gila. Karena orang-orang kafir Quraisy lebih mengedapankan akal pikiran daripada hati nurani maka kebenaran isra dan mikraj tidak akan pernah bisa diterima oleh mereka.      

Pernah ada sebuah penelitian, kalau dibuat sebuah mesin yang bisa bekerja menyamai otak manusia, mesin itu membutuhkan luas 50 kali lapangan sepak bola dan setinggi patung Liberty di Amerika. Canggihnya lagi, dengan kapasitas yang segitu besar, otak manusia Cuma butuh daya listrik setara atau bahkan lebih kecil dari 10 watt per hari. Setiap manusia yang baru lahir diberi karunia yang sama persis oleh Tuhan, berupa 1 triliun sel otak, kurang lebih 166 kali populasi seluruh penduduk bumi yang masing-masing selnya bekerja dengan kecepatan setara komputer pentium 4. Kalau 1 selnya saja bisa bekerja dengan kecepatan setara pentium 4, padahal ada 1 triliun sel otak, berarti kecepatan kerja otak manusia sama dengan 1 triliun laptop edisi tercanggih yang bekerja bersamaan.[2]

Semua perintah mengenai tugas pokok dan fungsi tubuh berjalan dengan sendirinya, 1x24 jam dalam irama yang ritmis, tanpa perlu kita perintah untuk on dan off. Sebagai contoh, otak secara otomatis akan mengirimkan perintah ke jantung untuk berdegup dalam batas normal sebanyak 60-80 kali setiap menit, ketika kita menghela napas berkisar 4-6 kali/menit, membuat pikiran menjadi tenang dan tekanan darah pun berada dalam batas normal. (Coba perhatikan, saat pikiran kacau, misalnya marah, jantung bisa berdegup lebih kencang, napas lebih cepat, dan tekanan darah bisa berubah). Dengan penciptaan yang sempurna, semua itu berjalan sendiri.[3]  

Sehebat-hebatnya akal apabila tidak dibimbing dengan wahyu Tuhan bisa dipastikan perbuatan-perbuatannya akan sangat merugikan orang lain. seperti koruptor. Koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka orang yang sangat pintar dan berpendidikan, tetapi karena mereka tidak mendapat bimbingan wahyu. Maka apapun ia lakukan untuk memenuhi nafsunya tanpa memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Walaupun sudah kaya tetapi masih merasa kurang. Dinamakan orang kaya yang hidupnya merasa dengan kecukupan.

Karena kebenaran manusia itu relatif. Maka sangat mungkin ada perbedaan pendapat antar satu orang dengan orang yang lain. Perbedaan argumentasi antar satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Sebagai umat Islam harus saling menjaga kerukunan dan toleransi. Perbedaan itu rahmat. Bukan malah menjadi saling bermusuhan dan saling mengkafirkan. Islam toleran bukan Islam tawuran. Islam yang ramah bukan Islam yang marah. Surga itu sangat luas. Maka jangan melarang atau mencegah orang lain untuk masuk surga.

Perbedaan Dalam Perspektif Al-Quran

Tak diragukan bahwa teks Al-Quran sebagai teks agama dan keyakinan, dan sebagai seruan pada petunjuk dan tuntunan, mengandung hukum, kaidah-kaidah, dan standar-standar untuk menilai dan mengklasifikasikan. Ia mengklasifikasi benda-benda dan perbuatan-perbuatan antara yang halal dan yang haram, baik dan buruk, bagus dan jelek, sebagaimana ia mengklasifikasi manusia antara muslim dan nonmuslim, mukmin dan kafir, berbakti dan pembangkang, serta salih dan fasid. Ia membantah para penentang, membedakan yang benar dari yang bohong, membedakan yang hak dan yang batil, menjelaskan apa yang wajib dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, memerintah dan melarang, menghalalkan dan mengharamkan, memuji dan mencela, serta menjanjikan dan mengancam. Oleh karenanya tak ada yang lepas dan klasifikasi selagi ada hukum dan standar.[4] 

Agama Sebagai Teori Kebenaran[5]

Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia maupun tentang Tuhan. Karena kebenaran manusia bersumber dari akal atau rasio. Dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan.

Penalaran dalam mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan berpikir setelah melakukan penyelidikan, pengalaman dan percobaan sebagai trial and error. Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu dalam agama dengan jalan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang berbagai masalah asasi dari atau kepada Kitab Suci.

Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Oleh karena itu, sangat wajar ketika Imam Al-Ghazali merasa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya Al-Ghazali sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan berbelit-belit. Tasawuflah yang menghilangkan keragu-raguan segala sesuatu. Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak; yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun Al-Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebenaran yang didapatnya adalah kebenaran subjektif atau inter-subjektif.

Positivisme Sebagai Teori Kebenaran

Pendiri dan sekaligus tokoh terpenting dari aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857). Filsafat Auguste Comte anti-metafisis, ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour prevour (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala ini supaya ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Semenjak Hegel dan karena Hegel muncul “mode” di kalangan para filsuf untuk “meramalkan” perkembangan dunia sebagaimana dikembangkan oleh Auguste Comte, Karl Marx, Emille Durkheim, Talcot Parson, Amitai Etzioni, van Peursen, Alvin Toffler, John Naisbitt dan lain-lain.[6]

Filsafat positivisme Auguste disebut juga faham empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Auguste pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara “terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. Metode positif Auguste Comte juga menekankan pandangannya pada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Baginya persoalan filsafat yang penting bukan masalah hakikat atau asal-mula pertama dan tujuan akhir gejala-gejala, melainkan bagaimana hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain.

Filsafat Auguste Comte terutama penting sebagai pencipta ilmu sosiologi. Mayoritas konsep, prinsip dan metode yang dipakai sekarang dalam sosiologi, bersumber dari Auguste. Auguste mengklasifikasikan masyarakat atas “statika sosial” dan “dinamika sosial”, statika sosial adalah teori tentang susunan masyarakat, sedangkan dinamika sosial adalah teori tentang perkembangan dan kemajuan. Sosiologi ini sekaligus suatu “filsafat sejarah”, karena Auguste memberikan tempat kepada fakta-fakta individual sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis (campuran) yang menjelaskan fakta-fakta itu. Fakta-fakta itu dapat bersifat politik, yuridis, ilmiah, tetapi juga falsafi, religius, atau kultural.

Aliran positivisme tidak menyakini sesuatu yang bersifat abstrak seperti surga dan neraka. Aliran Positivisme tidak memercayai adanya surga dan neraka. Karena menurut perspektif positivisme, surga dan neraka tidak bisa diindera. Aliran positivisme juga tidak memercayai tentang dunia gaib seperti setan, malaikat, roh dan jin. Sehingga pendekatan yang bisa digunakan adalah pendekatan spiritual (keimanan). Aliran positivisme sangat menuhankan akal pikiran. Akal manusia sangatlah terbatas. Jangan sampai akal yang seharusnya bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Malah membuat semakin jauh dari Tuhan. Tugas akal adalah memikirkan kebesaran kekuasaan Tuhan di seluruh alam semesta ini.   

Penulis menganalisa bahwasanya absolutivitas kebenaran Tuhan dan relativitas kebenaran manusia itu bisa disesuaikan. Bisa diambil jalan tengahnya atau titik temunya. Sisi yang bisa dikompromikan adalah bahwas kebenaran yang ditangkap oleh akal tidak lepas dari pemahamannya yang bersumber dari wahyu Tuhan. Apabila manusia itu salah maka hal tersebut termasuk manusiawi. Karena manusia tempatnya salah dan lupa. Akal manusia bisa dikatakan benar apabila mengikuti kebenaran yang mutlak yakni kebenaran wahyu Tuhan. Dan akal manusia salah apabila tidak mau mengikuti kebenaran wahyu Tuhan.


[1]Adelbert Snijders, Manusia & Kebenaran (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2006), 241.

[2]Sofie Beatrix, Move On Nggak Pake Lama (Bandung: Mizan Pustaka, 2014), 132.

[3]Nadirsyah Hosen dan Nurussyariah Hammado, Ashabul Kahfi Melek 3 Abad  (Bandung: Noura Books, 2013), 3-4.

[4]Ali Harb, Kritik Kebenaran (Yogyakarta: LKiS, 2004), 58.

[5]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), 121-122.

[6]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 86.

  

Isi Komentar