Ternyata Berjilbab Juga bisa Menncemarkan Nama Islam ?


Generic placeholder image

HIjab merupakan perintah Islam bagi para perempuan muslim. Social Media terbukti banyak membantu para perempuan dalam merubah gaya berpakaiaannya. Cara efektif Social media mampu mengubah presepsi masyarakat, khususnya perempuan tentang hijab. Jika dulu hijab diidentikkan dengan kesan kuno dan monoton, hadirnya social media mampu dijadikan alat dari beberapa individu atau kelompok untuk mengkampanyekan Hijab dengan kesan baru yang modis, modern dan beradap. Pemakai hijab di era ini masih bisa menyandang label modern tanpa menanggalkan kesan islami. Hijab telah di re-Branding dengan cukup cepat dengan bantuan social media. Beragam model busana muslim nan modis yang mulai berseliweran di social media sejak Dian Pelangi memulai bisnis butiknya dan tampil di Jakarta Fashion week pada 2009 lalu, membuat para perempuan tergiur memakai designnya atau terinspirasi dan meniru ide usahanya. Dian Pelangi bisa disebut sebagai salah satu pemantik dari populernya trend busana hijab di era ini. Dengan peranan social media, efek domino bergerak dengan cukup cepat dan apa yang bisa kita lihat hari ini menjadi  bukti dari dasyatnya kemampuan social media dalam membantu merubah perspektif hingga kebiasaan masyarakat. Namun benarkah, para perempuan yang memutuskan untuk berhijab itu benar-benar melakukan “Hijrah”?

 

Keputusan memakai hijab di era ini memang tidak sesulit era sebelumnya. Bisa diingat di jaman kisaran 90 an, PNS dan siswa sekolah negeri masih dilarang menggunakan jilbab. Masa sebelumnya, jilbab merupakan sesuatu yang masih Kontroversial. Hal yang cukup kontras dengan era sekarang. Keputusan memakai hijab cenderung lebih mudah diambil, sudah tidak banyak lagi stigma kurang mengenakkan atau dilemma-dilema yang dialami para perempuan. Takut jika berjilbab nanti tidak bisa menjadi PNS, Polwan dll. Hal yang masih dijumpai di kisaran tahun 2007 ini sudah tidak berlaku lagi sekarang. Masyarakat dan birokrasi cenderung semakin permisif terhadap kebebasan mengenakan jilbab. Meski masih saja ada beberapa jenis pekerjaan yang melarang penggunaan jilbab ,namun fenomena perempuan berhijab terus bertumbuh dan merebak. Dapat dilihat, semakin banyak perempuan yang memutuskan untuk berhijab.

Bila dibandingkan dengan kondisi lampau, saat pengguna hijab masih terhitung langka, kita bisa dengan mudah melihat jilbab sebagai salah satu dari takaran keimanan / derajat kualitas kepercayaan perempuan muslim terhadap Tuhannya. Mengingat betapa berat dan banyaknya konsekwensi dilematis dan kontroversial yang harus diidap oleh kaum hijabers sebelum datangnya Dian Pelangi dan social media. Berjilbab ditahun 80 an, beresiko dianggap sebagai PKI oleh sebagia kalangan. Belum lagi pelecehan dan intimidasi yang acapkali mereka terima, adapula yang memutuskan keluar dari sekolahnya demi mempertahankan keyakinan dan lelah dicemooh. Semua mereka pertaruhkan demi kepercayaan pada Tuhan yang sering disebut iman. Namun, di zaman ini hijab menjadi semakin absurd. Ia tak mampu lagi menjadi pembeda dan mengaburkan identitas kemuslimahan itu sendiri. Dapat dengan mudah dipastikan hanya dengan melihat, siapapun yang mengenakan hijab di kisaran tahun 80 an biasanya menunaikan Ibadahnya dengan baik ketimbang yang tidak berhijab paling tidak ibadah wajibnya. Pelaksanaan sholat 5 waktu, puasa wajib bahkan sunnah biasanya menjadi hal yang tidak lepas dibiasakan oleh para pemakai hijab dimasa silam. Bahkan seringkali juga dilekatkan dengan perangai yang positif, sopan, dan dianggap memiliki pengetahuan agama diatas rata-rata kebanyakan.

Fenomena maraknya pemakai hijab ini membuat identitas kemuslimahan dalam hijab menjadi sesuatu yang semakin abu-abu. Banyak ditemukan hijabers-hijabers modern yang tidak resah saat sholat wajibnya bolong atau bahkan tidak ditunaikan sama sekali. Tidak semua hijabers modern juga menampakkan peringai yang islami. Berhijab tetapi sering berkata kotor, bergaul dengan lawan jenis hingga melampaui koridor, masih sering berbohong dan lain sebagainya. Muslimah-muslimah berjilbab yang menunjukkan perangai yang bertentangan dengan ajaran islam justru menghancurkan nama islam itu sendiri. Jilbab adalah identitas, siapapun yang mengenakan jilbab, dengan mudah dikenali sebagai muslim, konsekwensi dari adalah semakin mudahnya masyarakat menilai dan menstigma Islam kala pemaikanya melakukan sesuatu yang melanggar norma.

Pemakai hijab yang tidak berniat “hijrah” secara spiritual dengan meningkatkan pengetahuan keislaman dan memperbaiki perilaku justru akan berpotensi membuat makna dan pandangan masyarakat islam terdegradasi. Karena agama seringkali dikonsepsikan bukan dari ajaran atau kitab suci nya tetapi dari perangai / perilaku para pemeluknya. Hal ini terjadi saat ini, Hijab kehilangan ke-sakralannya. Ia sudah bergeser menjadi sesuatu yang profan. Banyaknya pemakai hijab yang kurang berhasil merepresentasikan keislamanya membuat hijab yang dulu identik dengan symbol yang dianggap suci dan menjadi religion identity saat ini mengalami peyorasi dan menjadi sebatas pilihan fashion dan mode.

  

Isi Komentar