Pemuda dan Dakwah : Intelektual Peradaban untuk Melanjutkan Kehidupan Islam


Generic placeholder image

Pemuda dan Dakwah : Intelektual Peradaban untuk Melanjutkan Kehidupan Islam

Siapa yang mengakui dirinya pemuda?

Era globalisasi adalah masa dimana setiap orang ditantang untuk berjalan sesuai arusnya atau malah menentangnya. Di era ini, pola hidup dibalut dengan kenikmatan canggihnya perkembangan sains dan teknologi. Tak dipungkiri, kecanggihan sanis dan teknologi sudah menjadi darah daging globalisasi. Perkembangan inilah yang menuntut siapapun untuk menguasainya. Jika tidak cekatan, bisa jadi ia tenggelam dan terbawa arusnya. Tuntutan zaman begitu besar. Jika tuntutan besar, maka resiko akan besar pula. Siapapun itu harus mampu menyesuaikan dirinya terhadap alur zaman termasuk dalam penguasaan sains dan teknologi. Lantas, siapa yang berpengaruh besar dalam penguasaan ilmu tersebut? Jawabannya ada dalam diri Pemuda.

Mengapa mesti pemuda?

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”, Ir. Sukarno. Begitulah perkataan beliau mengenai pemuda. Dengan jumlah yang dapat dihitung jari, pemuda mampu mengguncang dunia. Sipemuda, begitu besar pengaruhnya. Pemuda turut andil di era globalisasi, pemuda adalah pengubah masa depan bangsa. Dengan darahnya yang berbalut tinta merah dan segar, pemuda memiliki fisik diri yang bugar.

Sayangnya, peran pemuda hingga detik ini belum mampu mengguncang dunia. Eksistensi nya hanya sebagai penikmat zaman, bukan pengubah zaman. Hari-harinya dihabiskan hanya untuk menangkap manisnya era globalisasi yang dibalut kecangghan sains sdan  teknologi. Masa mudanya dipakai hanya untuk menjadi konsumer sejati. Energinya dihabiskan hanya untuk menjadi agen globalisasi.

Seharusnya, pemuda adalah produsen bukanlah konsumer. Pemuda merupakan produsen energi terbesar untuk menonggak perubahan zaman. Di masa ini, peran hakikinya lambat laun memudar. Pemuda disibukkan dengan model kehidupan yang modern dan bersahabat dengan teknologi. Boleh saja demikian, tetapi modernitas dan kedekatan dengan teknologi bukanlah tujuan utama hidup pemuda.

Darah mudanya sangat mahal jika dihabiskan hanya untuk menjadi agen globalisasi. Mestinya, pemuda bukanlah pengikut arus globalisasi. Hedonitas, foya-foya, dan gaya hidup konsumtif terhadap era globalisasi telah menjadi tujuan pemuda di era ini. Icon utama yang digunakan sebagai alat pemuas kehendak diri adalah teknologi. Padahal, kecanggihan teknologi hanya dimaknai sebagai “pesawat” bagi manusia bukan sebagai icon utama pola hidup.

Pemuda di era ini belum mampu mendeteksi jati dirinya. Bagaimana sesungguhnya ia meniti pola hidup yang benar dan memainkan peran hakikinya. Pemuda telah salah dalam memaknai hari-harinya, masa mudanya dan quantitas energinya. Jika saja ia tahu apa peran hakikinya, maka para pemuda akan berpikir ribuan kali untuk menjadi agen globalisasi yang dibalut dengan zaman canggihnya sains dan teknologi.

Peran Pemuda dan Dakwah…

Sebagai generasi emas bangsa, pemuda berperan sebagai pelopor perubahan yang hakiki. Agent of change, merupakan amanah besar yang harus diembannya. Pemuda berpotensi menjadi bagian intergral dari perubahan era ataupun zaman. Pemuda yang sejati adalah ia yang mengguncang dunia dengan menjadikan dirinya sebagai tonggak pengubah peradaban untuk melanjutkan kehidupan Islam. Maka untuk menjadi tonggak peradaban gemilang, pemuda harus mengikat diri dengan Dakwah. Dakwah adalah poros hidupnya. Peran hakikinya adalah sebagai pemain utama digarda terdepan kebangkitan umat Islam. Tujuan hidup pemuda bukanlah menjadi agen globalisasi yang tenggelam dalam kecanggihan teknologi. Justru, canggihnya sains dan teknologi dimafaatkan sebagai penyokong tsaqofahnya. Karakter pemuda yang sesuai dengan konsep Islam adalah: (1) ber-Syaksiyah Islamiyah (2) menguasai tsaqofah Islam dan (3) menguasai sains dan teknologi. Penguasaan terhadap sains dan teknologi dibenarkan dalam Islam. Tetapi, untuk tenggelam didalamnya bukanlah karakter pemuda Islam.

Pemuda dan dakwah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemuda memiliki status sebagai pengemban dakwah. Pemuda mampu mengubah kehidupan di era globalisasi ini menjadi perdaban baru yang gemilang seperti yang pernah berdiri 92 tahun silam selama 13 abad lamanya. Peradaban Islam, itulah peradaban yang harus diwujudkan oleh para pemuda. Kebangkitan Islam hanya mampu dimanifestasikan oleh pemuda. Kebangkitan ini dapat diperoleh dengan menjadikan diri para pemuda sebagai pejuang Islam yang sejatinya mengimplementasikan diri sebagai pengemban Dakwah Islam. Maka, pemuda dan dakwah merupakan “Intelektual perdaban” yang harus melaksanakan peran hakikinya dan menjadikan Islam sebagai ideologinya. Intelektual peradaban yang berideologikan Islam mampu melanjutkan kembali kehidupan Islam. Jika para pemuda telah memaknai perannya sebagai intelektual peradaban, maka para pemuda inilah yang sedang ditunggu oleh dunia agar mampu mengguncangnya.

 

Oleh: Yanne Tifanny Olivia N.

  

Isi Komentar