Tertegun Aku Pada Ayat Ini


Generic placeholder image

Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah ta’ala. Ia bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula suatu produk atau hasil pemikiran filsafat manusia. Al-Quran juga merupakan Mu’jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal itu di luar kesanggupannya. Mu’jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud menguatkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka benar-benar dari Allah ta’ala.

Al-Qur'an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy. Secara umum, Al-Qur'an terbagi menjadi 30 bagian yang dikenal dengan nama juz. Pembagian juz memudahkan mereka yang ingin menuntaskan pembacaan Al-Qur'an dalam kurun waktu 30 hari. Terdapat pembagian lain yang disebut manzil, yang membagi Al-Qur'an menjadi 7 bagian. Menurut tempat diturunkannya, surah-surah dapat dibagi atas golongan Makkiyah (surah Mekkah) dan golongan Madaniyah (surah Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu yang diperkirakan terjadi penurunan surah maupun ayat tertentu, di mana surah-surah yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan sebagai surah Makkiyah sementara surah-surah yang turun setelahnya tergolong sebagai surah Madaniyah.

Surah yang turun di Mekkah pada umumnya surah-surah dengan jumlah ayat yang sedikit, berisi prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan surah-surah yang turun di Madinah pada umumnya memiliki jumlah ayat yang banyak, berisi peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan, ataupun seseorang dengan lainnya (syari'ah) maupun pembahasan-pembahasan lain. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini dianggap lebih tepat, sebab terdapat surah Madaniyah yang turun di Mekkah.

Allah menurukan Kitab-Nya yang abadi agar ia dibaca lisan, didengarkan telinga, dipikirkan akal dan agar hati  menjadi tenang karenanya. Sampai-sampai ada ulama yang menyebutkan definisi Al-Qur’an sebagai berikut : Orang yang beribadah dengan membaca Al-Qur’an harus bisa membedakan antara wahyu Al-Qur’an dan wahyu As-Sunnah. Al-Qur’an adalah wahyu yang dibaca dan As-Sunnah adalah wahyu yang tidak harus dibaca.

Al Quran berbeda dengan syair Arab, meskipun syair Arab dikenal sangat indah dan yang memiliki masa lalu yang cemerlang. Allah sangat mengecam keras orang-orang yang menyebut Al Quran sebagai syair dan menyebut nabi Muhammad sebagai penyair. Namun demikian, Al Quran mengandung kalimat-kalimat yang sangat halus dan berbagai gaya bahasa sastra, seperti majaz, metafora, perumpamaan, atau penyerupaan. Dalam Al Quran juga terdapat ayat-ayat yang berpola atau berirama, yang jumlahnya lebih dari 100 ayat. Namun demikian, Al Quran memiliki perbedaan besar dengan syair. Selain itu, poin yang menarik untuk dicermati adalah bahwa Al Quran juga memiliki perbedaan dengan kalimat, khutbah, dan hadits dari para nabi, sehingga Al Quran merupakan sebuah karya yang tidak ada duanya. Salah satu sisi penting dari keindahan Al Quran yang sangat menarik perhatian para cendikiawan ialah susunan kata-katanya yang berirama. Susunan kata-kata Al Quran sedemikian indah dan cemerlang, sehingga sastrawan Arab sejak zaman ketika Al Quran diwahyukan sampai hari ini, mengakui bahwa bahasa yang dipakai Al Quran berada di luar dari kemampuan manusia dan hanya Allah SWT yang mampu menyusun kalimat-kalimat sedemikian indah. Kata-kata di sebagian besar ayat Al Quran memiliki kesamaan nada pada bagian akhirnya. Pola ini dalam puisi atau syair disebut sebagai wazan atau rima. Ayat-ayat Al Quran menggunakan jalinan rima yang menarik hati dan menyentuh jiwa.

Sisi lain daya tarik Al Quran ialah keselarasan antara lafaz dan makna kalimat. Bila kita merenungi ayat-ayat Al Quran, kita akan mendapati bahwa ketika sebuah ayat menceritakan tentang kelembutan dan rahmat ilahi, kalimat dan kata-kata yang digunakan pun bernada lembut dan indah. Oleh karenanya, ketika manusia membaca ayat-ayat tersebut, ia pun akan merasakan sifat lembut dan rahmat Ilahi di dalam jiwanya. Sebaliknya, ayat-ayat yang menyebutkan tentang azab, kesempitan, dan kesulitan, juga akan menimbulkan perasaan takut. Lafaz atau kata-kata yang dipakai pun terasa sulit. Sungguh Begitulah sempurnanya ayat Al-Quran.

  

Isi Komentar