Belajar dari Semut


Generic placeholder image

            Manusia adalah makhluk paling sempurna , yang telah Allah muliakan dari ciptaan-Nya yang lain dengan akal dan budi pekerti yang baik. Melalui kelebihannya ini, manusia dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dengan akal pula, manusia dapat merenungi segala ciptaan Allah yang ada di Bumi sebagai bentuk rasa syukur. Namun, meski demikian, Allah melarang manusia untuk bersikap sombong dan congkak atas apa yang dia punya. Serta manusia tidak diperkenankan meremehkan bahkan mencela makhluk Allah lain. Semisal semut. Bahkan Allah telah memberikan pelajaran kepada kita lewat makhluk kecil yang bernama semut tersebut.

            Dalam Al-Qur’an, diceritakan bahwa suatu ketika nabi Sulaiman mengumpulkan semua bala tentaranya dari bangsa Manusia, Jin, dan Hewan untuk melakukan suatu perjalanan. Dan saat Nabi Sulaiman beserta pasukannya melewati sebuah lembah yang bernama “Lembah Semut”, Nabi Sulaiman mendengar pembicaraan seekor semut dengan semut-semut lainnya seperti yang Allah abadikan dalam QS. An-Naml ayat 18, “Hingga mereka sampai dilembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Hai semut-semut! Masuklah kedalam sarangmu, agar tidak diinjak-injak Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari”.

            Mendengar perkataan semut tersebut, membuat Nabi Sulaiman spontan memerintahkan untuk menghentikan laju tentaranya. Dia tersenyum dan dalam hatinya menyeruak rasa kagum terhadap semut tersebut, yang dalam redaksional ayat tidak menyebutkan bahwa semut yang memberikan peringatan adalah pemimpin semut. Melainkan semut biasa.

            Sepenggal ayat tersebut selian mengisahkan kepada kita cerita seekor semut di masa Nabi Sulaiman, juga menyisakan pelajaran yang harus kita petik hikmahnya. Beberapa pelajaran berharga tersebut antara lain;

            Pertama, Memiliki tanggung jawab kolektif. Sesuai cerita diatas, semut memiliki tanggung jawab kolektif  yang sangat tinggi terhadap komunitasnya. Tanggung jawab ini mengharuskan dirinya bertindak cepat disaat ada sesuatu yang membahayakan komunitasnya tersebut. Begitu pula dengan kita sebagai seorang muslim, kita semestinya memiliki tanggung jawab kolektif yang besar kepada sesama muslim yang lain. Saling membantu saudaranya yang sedang kesusahan, menghibur tetangganya yang sedang dilanda musibah, dan lain-lain. Karena sesama muslim bagaikan “Buryanun Marshush”, dinding yang kokoh.  Karenanya pula, Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa seorang muslim yang tidak memiliki tanggung jawab dan rasa peduli terhadap komunitasnya Muslim tidak termasuk kedalam komunitas tersebut. Serta do’a Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Ya Allah, siapa yang diberi tanggung jawab untuk mengurus masalah umatku lalu dia tidak melaksanakannya, bahkan ia mempersulit mereka maka persulitlah seluruh urusannya. Sebaliknya, siapa yang mempermudah (urusan mereka) maka permudahlah juga urusannya”. Na’udzubillah min dzalik.

            Kedua, Saling menasehati. Pelajaran yang dapat kita ambil dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah saling mengingatkan satu dengan yang lain antara umat Islam. Sebagaimana firman Allah SWT,

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah kepada yang munkar, dan beriman kepada Allah......... “ QS. Ali Imron : 110.

Fungsi nasehat ini salah satunya adalah untuk menghindarkan masyarakat dari bencana dan mushibah yang hendak menimpa mereka. Persis seperti yang dilakukan oleh semut dalam kisah diatas.

            Ketiga, Kejujuran. Semut ini memberitakan dengan sangat jujur akan datangnya Nabi Sulaiman dan bala tentaranya yang mungkin akan menginjak-injak kawanananya tanpa mereka sadari tanpa dikurangi atau bahkan ditambahi. Jujur merupakan sikap yang begitu sulit. Tak jarang kita memberitakan suatu relita versi yang menguntungkan. Namun, seekor semut yang derajatnya berada dibawah manusia, ternyata mampu bersikap jujur terhadap dirinya dan kelompoknya.

            Kita harus belajar lebih banyak kepada hal-hal disekitar kita yang kadang kita anggap remeh. Karena Allah pasti menyisipkan hikmah-hikmah luar biasa didalamnya. Wallahu a’lam.

  

Isi Komentar